Friday 15 January 2016

DISKUSI BARENG AKTIFIS IDEOLOGIS YANG IDEALIS (REFLEKSI)

Oleh: Ramdan Nugraha



Meski hanya sekitar satu jam berdiskusi dengan salah seorang aktifis ideologis angkatan 98 yang masih konsisten dengan karakternya yang sangat progresif, dinamis, berkemajuan, serta hal menakjubkan lainnya yang rasanya seperti meminta kambing untuk terbang bila kita mencari sosok seperti ini dikalangan aktifis mahasiswa kontemporer sekarang. Saya merasa ada banyak sekali poin penting yang muncul dari dialektika yang sangat bergairah dan berkualitas ini hingga membawa saya melihat cerminan sosok aktifis 60 yang sangat fenomenal bernama Soe Hok Gie.
Awalnya saya membuka diskusi dengan bertanya seputar bom Sarinah Jakarta (Kamis, 14 Januari 2016) yang cukup merusak fasilitas dan mengkhianati kemanusiaan itu yang kabarnya sampai terngiang di Amerika dan Eropa. Ada dua spekulasi yang muncul, pertama, bahwa bom tersebut adalah bentuk kampanye dari salah seorang calon pemimpin Ikatan Sesama Intelejen Sakit (baca: ISIS) untuk kawasan Asia Tenggara. Ketika kejadian bom Sarinah ini menyita perhatian banyak pihak, maka kampanye pemilihan Khalifah itu diniliai berhasil dan memberi poin tertentu bagi kandidiat tersebut untuk memenangkan kompetisi hina khalifah. Begitulah kebanggaan golongan manusia yang pernah dikeluhkan oleh para malaikat dulu tentang pengangkatannya sebagai pemimpin di muka bumi (konon).
Spekulasi kedua adalah adanya elite lokal yang berkepentingan dengan mencuci otak para pemuda yang mungkin lapar atau ingin 70 bidadari surga yang entah ada atau hanya sebagai pengantar tidur dewasa, untuk mau meledakkan bom disekitar halaman Starbuck yang penuh dengan penjual kaki lima. Ada hal yang unik bahwa tidak lama setelah ledakan, ada seorang polisi yang langsung melancarkan tembakan ke arah lokasi ledakan dengan memburu para pemuda galau yang belum meledakkan diri itu. Entah kebetulan sudah siaga atau seperti apa, yang pasti itu adalah tindakan tercepat kepolisian.
Saya rasa semua spekulasi yang muncul, bila memang ini semua adalah bagian kecil dari konspirasi jahat yang raksasa, maka tidak usah kita berharap banyak karena “kebenaran itu hanya ada di langit dan dunia itu adalah palsu, palsu!” begitulah kata Gie sebagai seorang aktifis ideologis yang idealis saat ia menghadapi chaos negara pada zamannya. Lantas saya bingung dengan semua ini, untuk apa? Untuk siapa? Tentunya banyak sekali aspek yang mempengaruhi semua ini. Saya garis bawahi kata si abang semua ini adalah konsekwensi keberagaman yang dimiliki Indonesia sebagai negara yang sumber daya alamnya paling potensial di dunia ini, sehingga bukanlah hal yang tabu bila pihak baik lokal maupun global sangat berkepentingan demi surga dunia ini, dan politik konspirasi adalah metode yang ampuh untuk bisa mewujudkan cita-cita mereka yang fana itu.
Lantas, solusi real apa yang bisa dilakukan? Saya tanya si abang.  Dengan gayanya yang sangat retoris dia berkata,“kesadaran masyarakat untuk bisa menjadi manusia baik” seperti masyarakat Eropa dan Amerika saat ini. Meski negara-negara Barat berdiri dengan konstruksi falsafah kenegaraan yang berbeda-beda bahkan sangat terdengar ngeri bagi kita semacam komunis, sosialis, fasis, namun mereka mampu menjadi bangsa yang makmur dan aman seperti yang dicita-citakan Hizbut Tahrir. Artinya, apapun konstruksi bangunan negara ini, hal paling esensial adalah cocok-tidaknya konstruksi itu dengan realita dan karakter masyarakat suatu negara tersebut.
Hizbut Tahrir menyebut ke-khilafah-an adalah konstruksi bangunan sempurna yang akan menyelesaikan semua masalah Indonesia, saya rasa untuk masalah kemacetan Jakarta saja masih akan kalah hebat oleh Go-Jek meski tanpa embel-embel syariah (baca: Go-Jek Syariah). Tidak akan pernah ada konstruksi bangunan negara yang abadi, namun lebih kepada kebutuhannya masing-masing berdasarkan perkembangan masyarakatnya. Masyarakat bukanlah Tuhan, namun tanpa masyarakat negara tidak akan memiliki tempat meretaskan aturan-aturannya termasuk keberadaan agama di dalamnya.
Maka “sadar untuk menjadi manusia baik” itu adalah tugas yang sangat besar mungkin melebihi Uhud atau Khandak, dan sudah jelas akan terjadi banyak kehinaan sejarah semacam Shiffin atau perang Salib. Hari ini Tuhan telah menunggu masa dimana cipataan-Nya mampu dewasa dan menjadi manusia dengan nilai hakiki dan siap merepresentasikan penciptanya.

No comments: