Saturday, 26 March 2016

Rasanya

Menyaksikan semua ini,
rasanya nilai-nilai kebenaran telah mati dikafani
lalu disemayamkan di dalam makam-makam kejujuran
Aku baptiskan diri ku pada perdamaian dan kemanusiaan

Ramdan Nugraha, 26 Maret 2016

Friday, 11 March 2016

GEJALA LATEN PRIMITIFISME





Saya persilahkan anda semua membaca dulu tulisan pada gambar di atas. Apakah anda sering melihat MANUSIA jenis seperti ini? Tidak butuh waktu bahkan satu detikpun untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Jawabannya jelas BUANYAKKK! Indonesia kini mengalami krisis kepercayaan yang memang boleh kita akui berasal dari kinerja pengelola pemerintahan yang masih jauh dari cukup dalam melaksanakan kewajibannya. Namun apakah gejala ini harus memfosil dan membuat seluruh paradigma dan pemikiran masyarakat Indonesia membeku dalam kecurigaan, kekhawatiran akut, kekecewaan abadi, atau kebencian yang tidak berkesudahan? Saya rasa keadaan tidak harus menjadi se-NAIF itu karena masih banyak sekali orang atau kelompok yang juga ingin membawa perbaikan terhadap negara tercinta ini (kecuali memang kelompok yang bahkan tak pernah mengakui PANCASILA sebagai falsafah negara).
Foto diatas membahas terkait pidato Presiden Jokowi dalam Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Konferensi Islam (KTT LB OKI) belum lama ini di Jakarta, memberi respon terkait pembebasan Palestina dari penjajahan Israel yang jelas merupakan itikad baik. Namun hati manusia tidak semua bersih, kadarnya berbeda-beda, dan mungkin orang pada gambar diatas sudah termasuk gelap dan berangin topan (personal-claim karena bentuk kekecewaan terhadap gerakan buruk sangka ini), sehingga lilin apapun yang dinyalakan akan tetap padam. 
Jelas sekali gejala ini lebih berbahaya dibanding pembunuhan, korupsi, atau kejahatan lainnya. Karena dari gejala mental semacam ini, hal apapun, meskipun itu salah akan menjadi benar demi mewujudkan monolitik faham sebuah gerakan, termasuk pada akhirnya adalah pemberontakan fisik. Lihat saja pernyataan pengkultus salah satu kelompok diatas melakukan nyinyir kepada seorang kepala negara yaitu Presiden yang tampak dimatanya tidak lebih dari seorang pengecut yang tidak mampu berjuang. Masya Allah, mungkin inilah bentuk arogansi termulya dalam sejarah. Mari kita bahas sedikit saja dengan gaya monolog yang santai dan membumi. Karena berhubungan dengan gerakan ini, rasanya berdialektika dengan bahasa langit hanya akan membawa anda jatuh pada kubangan kebodohan karena tidak tersambungnya koneksi ide dan pemahaman satu sama lain.
Sejauh buku-buku yang telah banyak diterbitkan, juga penelitian ilmiah tentang sejarah Indonesia, kelompok-kelompok yang punya sumbangsih besar terhadap bangsa Indonesia bahkan juga menjadi founding father negara ini adalah mereka yang secara garis besar menerima Pancasila meski ada sedikit perdebatan pada sila ke-satu yang kemudian dijembatani oleh Ki Bagus Hadikusuma sebagai salah satu cendikiawan muslim dari Persyarikatan Muhammadiyah yang akhirnya menjadi sangat representatif untuk semua golongan agama dan etnis di Indonesia. Dari situ, perkara Pancasila sudah mencair dan menjadi pijakan bersama untuk membangun negara ini.
 Ada Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PERSIS, Al-Irsyad, dan kelompok-kelompok lainnya yang secara masif berjuang baik fisik maupun pemikiran hingga bangsa ini mendapatkan kemerdekaannya. Nah sekarang silahkan lihat lagi foto diatas, seorang anggota dari kelompok yang tidak ada sumbangsihnya sama sekali untuk bangsa ini begitu mudahnya melakukan “kritik” yang tidak konstruktif sama sekali. Saya berhipotesa orang ini baru mengenal Islam pada tataran CANGKANG yang kemudian menjadi semacam baptis untuk berdakwah atas nama keterbelakangan. Mungkin masa kecilnya jauh dari nilai agama yang otentik, sehingga bermualaf dan di saksikan oleh Syaikh Al-Google dan diberi banyak masukan oleh Buya FACEBOOK serta Cak YOUTUBE setiap hari tanpa filter yang baik sehingga membawa kedangkalan yang hakiki.
Inilah bentuk warga negara yang tidak pernah berjuang namun mungkin merasa telah memiliki Surga dengan bayangan 70-an bidadarinya. Saya harap ini menjadi semacam refleksi untuk kita yang masih bisa ber-husnudzan agar mampu melihat segala masalah sebagai ajang mencari solusi, bukan ajang mem-bully dan mencaci maki mereka yang sebenarnya mungkin jauh lebih bernilai dibanding kita yang tidak memberi pengaruh apapun dalam dinamika perdaban manusia. Dilahirkan dengan keadaan apapun itu bukan pilihan, namun mati menjadi orang bodoh, apatis, atau bermanfaat itu adalah sebuah pilihan dan menjadi konsekwensi atas sebuah proses yang penuh dengan perjuangan. Berhentilah menghina dan nyinyir kepada Presiden atau siapapun, namun berpikirlah untuk mampu bertindak lebih konstruktif demi kemaslahatan bangsa dan negara ini!

Sudah sedemikian kotorkah hati anda sehingga niat kebaikan apapun dari orang yang mungkin anda benci itu menjadi sesuatu yang tidak mungkin terjadi? bila ia, mari bersihkan hati bersama-sama dalam harmoni, bukan dalam bangunan emosi yang abadi

Ramdan Nugraha #nasionalis #Islam-with-NKRI

How Could You Easily Believe in God, While One of His Creatures You Contrastively Claimed as ODD?

written by: Ramdan Nugraha


I'm a rolling rock
trying to hit the black box
it's kinda way to have the door unlocked
then the light is shining up the orthodox
there, finally God will prove the truth of all the things you called as hoax!

Monday, 7 March 2016

Dia dan Cinta-Nya Yang Abadi

Oleh: Ramdan Nugraha



Cinta adalah alasan mengapa ada kehidupan
manusia-manusia yang lahir dengan warisan
keagungan-Nya dalam setiap penciptaan
namun hukum bumi itu diberlakukan
diantara kita memiliki ragam pilihan

diciptakan jalan-jalan terjal,
sebagian lagi lurus namun tandus
ada pula belokan bahkan tanjakan curam
semua menuju puncak yang telah dituliskan

dan kenyataan itu ada,
berlomba-lomba menyampaikan
ingkar terbakar
patuh peluh

Dia saksikan yang telah direncanakan
namun tidak dalam kemutlakkan ciptaan
sesekali cinta-Nya boleh saja merubah apapun, kapanpun



Wednesday, 24 February 2016

MENOLAK PENDAPAT HIZBUT TAHRIR: Menyelami Pandangan Yusuf Qardhawi Dalam "FIQIH JIHAD"



Oleh: Ramdan Nugraha

Pada kesempatan kali ini saya ingin kembali mengutip beberapa paragraf lengkap yang redaksinya tidak saya tambahi atau saya kurangi sesuai dengan teks aslinya. Buku yang menjadi rujukan kali ini adalah FIQIH JIHAD karya Yusuf Qardhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara sah. Paragraf yang akan saya kutip masih tentang kesadaran kita untuk tidak menjadi pemberontak negara dengan memperdagangkan nama Tuhan sebagai legitimasi aksi-aksi pemberontakan baik yang bersifat fisik maupun pemikiran.
Kali ini pembahasan lebih difokuskan pada makna jihad menurut Al-Qur’an dan Sunnah yang membantah paradigma berfikir salah satu gerakan Islam kontemporer transnasional bernama Hizbut Tahrir yang dilihat dari pandangan pendirinya Taqiyuddin Al-Nabhani yang memahami perjuangan  Rasulullah sebagai perjuangan ofensif termasuk pada tataran penyebaran Islam pada masanya dan ijtihad pemahaman ini di terjemahkan oleh seorang intelektual muslim ternama yaitu Yusuf Qardhawi.  Berikut kutipan paragraf yang saya kutip dari buku yang cukup tebal ini dengan jumlah halaman sebanyak 1227.

Menolak Pendapat Hizbut Tahrir

“Masih dalam konteks sebelumnya, Syaikh Al-Ghazali mengatakan, “Ambillah sebuah contoh yang lain:

‘Setelah 10 tahun menanggung aniaya dan kesedihan, Nabi Saw. beserta orang-orang yang beriman kepadanya diusir dari Makkah.
Setelah hijrah pun, permusuhan Quraisy terhadap Islam belum mereda, bahkan orang yang berani menampakkan keislamannya secara terang-terangan di Makkah, kelak akan ditimpa malapetaka. Di antara doa orang-orang yang lemah dan diuji adalah, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu (QS Al-Nisa’ [4]: 75).

Karena itu, apakah masih bisa dikatakan bahwa perang yang dilakukan kaum Muslim terhadap orang-orang musyrik itu sebagai perang ofensif?
Sebagaimana diketahui, Kerajaan Romawi itu telah tersebar di Asia dan Afrika layaknya belalang yang hinggap di daun yang hijau dan yang kering. Penjajahan Romawi itu penuh dengan tirani, kekejaman, dan arogansi.
Romawi telah memeluk Kristen dan mengubahnya cenderung seperti paganisme, serta mengusir bahkan memusnahkan gereja-gereja yang masih menganut monoteisme. Ketika Islam muncul, Romawi menghalangi jalannya dan tidak memberi kebebasan untuk bergerak, serta memeranginya di sebelah utara jazirah agar dapat melenyapkannya!
Apakah perlawanan kaum Muslim terhadap Romawi dan penghancuran kekuatan yang sudah dibangun itu disebut dengan perang ofensif, yang lahir dari keinginan Islam untuk menyebarkan agamanya? Apakah hak agama yang baru untuk menyampaikannya kepada semua manusia, layak dipandang sebagai kejahatan? Bukankah penolakan mereka dengan membungkam mulut dan menebar fitnah layak dipandang sebagai bentuk penistaan dan penghinaan terhadap agama Allah?
Dengan keputusan yang nyata ini, seorang ketua organisasi Islam menulis dalam buletin yang sangat panjang kepada anggota organisasinya, “Sesungguhnya Islam dimulai dengan perangdan merencanakan serangan terhadap musuh-musuhnya.”
Syaikh Taqiyuddin Al-Nabhani rahimahullah berkata, “Sesungguhnya perkataan dan perbuatan Rasulullah Saw. menunjukkan dengan jelas bahwa jihad adalah mendahului orang-orang kafir dalam peperangan untuk mengakkan kalimat Allah dan menyebarkan Islam. Sesungguhnya Rasulullah Saw. pergi ke Badar untuk memerangi kafilah Quraisy dan beliau adalah pihak yang mendahului perang tersebut. Quraisy adalah sebuah negara dan tidak menyerang terlebih dahulu kepada Rasul atau ke Madinah, sehingga beliau harus melawannya. Bahkan, beliaulah yang memulai peperangan itu!”

Persepsi terhadap fakta-fakta seperti ini lebih menyerupai lelucon menggelikan yang mengada-ada ketimbang sebagai sebuah pernyataan. Saya tidak tahu bagaimana mungkin di dalam otak manusia ada pikiran bahwa orang-orang yang mengusir bangsa lainnya dari negeri mereka sendiri dan mengintimidasi keyakinan mereka, tidak dinilai sebagai bentuk kejahatan dan permusuhan yang layak dilawan?
Ketua Hizbut Tahrir Al-Islami mengatakan, “Sesungguhnya Nabi Saw. mengirim pasukan ke Mu’tah untuk memerangi Romawi dan ke Tabuk mendekati perbatasan Romawi. Karena itu, jelaslah bahwa beliau yang pertama kali memerangi mereka.”
Perkataan ini sangatlah aneh. Dengan logika yang menakjubkan ini dapat dikatakan bahwa perang yang dilakukan bangsa kulit hitam di Afrika Selatan sekarang sebagai perang ofensif, dan pertempuran yang dilakukan oleh Palestina melawan negara Israel itu sebagai perang ofensif. Bagaimana mungkin?
Pikiran menyesatkan seperti ini nyata-nyata harus disingkirkan dari setiap Muslim. Ironisnya, pemikiran semacam ini justru tumbuh di kalangan orang-orang Islam sendiri.
Yang dibutuhkan Islam hanyalah iklim yang bebas agar orang-orang yang ingin masuk ke dalamnya dapat menentukan sendiri keyakinannya, dalam suasana damai tanpa halangan dan gangguan. Kita tidak boleh memaksa seorang pun untuk memeluk Islam, dan Islam tidak menerima keimanan yang terpaksa.”

Begitulah kutipan dari apa yang telah dikemukakan oleh Yusuf Qardhawi terkait pandangannya pada gerakan yang secara awam memahami makna jihad dalam Islam. Hizbut Tahrir lahir dari pemahaman pendirinya yang kurang tepat namun dijadikan falsafah gerakan yang dianggap paling benar. Sehingga tidak akan asing ketika banyak syababnya yang mudah sekali menjastifikasi kekafiran sesama saudara Muslim hanya karena berbeda pandangan terkait memaknai nilai dan makna Al-Qur’an yang kaya itu, terutama mereka yang tidak tergabung secara baku dalam organisasi yang didirikan Taqiyuddin Al-Nabhani itu. Terlihat jelas Hizbut Tahrir menjadi gerakan penghambat persatuan umat Islam karena arogansinya dalam memonopoli kebenaran hukum Allah seakan ijtihad dan pemikiran mereka saja yang paling diterima oleh Allah, dan itu jelas sekali sangat kontradiktif dengan misi besarnya yaitu menyatukan umat dalam payung besar khilafah yang tampaknya semakin jauh dari kenyataan.
Semoga kita semua tetap berpegang pada nilai otentik Islam yang bisa diinterpretasi secara kontekstual dan tidak bertentangan dengan zaman, namun sejalan seiring dalam satu harmoni yang indah. Amin

Tuesday, 23 February 2016

EDUCATION AND RELIGION

Written by: Ramdan Nugraha



Once Syafi’i Maarif as one of Indonesian muslim intellectual stated that people in Indonesia should be able to engage the logic and faith. It has a deep meaning that people who believe in religion should wisely implement the religion’s values into the real life. Most of Indonesian are very strong at practising the ritual faith such as prayer, reciting Al-Qur’an, do fasting, and so on, but in contrast, they have quite low logical point of view when facing the issues which is contradictory with what they believe (faith or religion). For example, the issues recently happen are the conflict of Sunni-Shia, president election, “Chinese attact”, and so so. It could be seen that the Indonesian believers (of religion) contrastively used religion aspect to legitimize the violence to against the sides or groups who have different lines as the minor ones.
Based on several big issues mentioned above, it is found people who have their position pro with religion and classified into two major levels:
1.    The very strong pro of religion education, this pradigm is mostly found in traditional education such as boarding schools (Indonesian: pesantren) that teach only religion (Islam) to their students at the beginning, but few of the recent boarding schools have developed their system into the modern ones by putting the secular subjects such as science and technology, and also other fields of education. Those traditional who still hold on the believe of religion think radically that only religion values that will save the world, hence, they extremely promote the fundamental values of religion at education institution such as Madratsah (the same level as elementary school), Tsanawiyah (the same level as Junior High), Aliyah (the same level as Senior High), and until the higher education such as universities. They try to refuse all of the secular paradigm but share the syariah (Islamic law) instead. Sometimes, technology and globalization are not really popular to the students since those aspects are limited to be taught. If the writer could create new words for representing this movement, it would be called as “religionalize the education”.
2.    The medium pro of religion education, this group agree that religion education sould be taught as compulsory subject at schools but they do not force all people to do. They just persuade the surroundings that religion education is very important. It would be bothering them if only there are cases that discriminating their religion in general and they would also react even if it should take their sons out of the school (let say claimed as ‘going wrong’ by common people around). This second group paradigm is almost the same as the first group but they have more permission of the things happened if only there is no provoking from others.
In contrast, there is another group who do not agree that religion becomes compulsory subject at schools in order to build up the students’ good character to live this life. This group claim that religion is a personal choice of human and people have nothing to do with what they will choose as their religion. In further, teaching religion at schools is not necessary to do since it will force them to be hypocrite while human have their free-will to decide. This group promote the freedom to people to live with the universal truth which popularly represented in the golden-rule that more or less state “do what you want people do to you, and do not do what you do not want people do to you”. When we go further understanding this concept, it seems that religion is not significantly needed when people could behave well in their life by implementing the golden-role. One thing for sure that all religion teach and share the same fundamental values of life – goodness.
In brief, there are two big major that react to the religion education; the group who massively promote the religion into the education system and those who do not put religion education as the priority or even deny it. I am as one of the part of the country have personal view dealing with this phenomenon. I have myself in the middle position between the two (pros-cons of religion education). I still remember few months ago Musdah Mulya stated “Mungkin sekolah Islam harus dikurangi. Ini sangat penting agar generasi Indonesia ke depannya semakin baik, jadi tidak berkembang lagi terorisme di negeri ini. Musdah Mulia mengharapkan agar sekolah Kristen dan Islam akan berdiri sama rata. Tidak hanya itu saja, pembelajaran agama Islam sebaliknya ditiadakan saja.” (suaranasional.com. 11/11/2015). This statement controversially got the various responses from many people in different background. When we try to open-mindedly read Musdah Mulia’s statement, we can have the main line that could possibly be accepted by people which is, putting the harmony of all religion values in Indonesia and connect it to the golden-rule to achieve the better civilization of the man-kind. What happen now in society is disharmony of religion-relation one another that separate the universal values of all religion called as goodness. I agree that religion education should be shared at schools as the students’ paradigm development in order to meaningfully understand why they should believe in religion.

           The last point to sharpening my conclusion is we have to principally let the students to measure themselves the religion they believe based on the nature or character of that religion which can be seen through the holy book such Al-Qur’an or Bible taught at schools and universities and also see other religions that their friends probably believe to make a harmony in society. Religion is a faith and practising its ritual is principle, while education is logic that function to implement the religion values on the right track and respecting the diversity wisely in order to develop a better civilization of the man-kind.